Pertumbuhan Ekonomi dan Kesejahteraan: Mengapa Hidup Tidak Membaik?
Sosial

Pertumbuhan Ekonomi dan Kesejahteraan: Mengapa Hidup Tidak Membaik?

Ada satu ironi yang makin sering kita temui dalam kehidupan modern: ekonomi dikabarkan tumbuh, angka-angka dipuji, optimisme diproduksi---tetapi hidup banyak orang tetap terasa rapuh.

Kita mendengar berita tentang pertumbuhan ekonomi seperti mendengar suara dari kejauhan: resmi, meyakinkan, tetapi asing. Seolah itu kabar baik yang tidak pernah benar-benar tiba di rumah. Karena di ruang tamu masyarakat, pertumbuhan tidak selalu hadir sebagai kenyamanan. Ia tidak otomatis menjadi harga yang lebih bersahabat, upah yang lebih layak, atau masa depan yang lebih pasti.

Pertanyaan pun muncul, sederhana namun menggigit: jika ekonomi tumbuh, mengapa hidup tidak ikut membaik?

Ekonomi makro berbicara dalam persentase, dalam PDB, dalam laporan triwulan, dalam grafik yang naik dan menenangkan. Namun manusia tidak hidup di dalam grafik. Manusia hidup dalam hal-hal yang kecil tetapi menentukan: berapa harga beras minggu ini, berapa biaya sekolah anak, berapa cicilan yang belum lunas, berapa lama tubuh bisa bertahan sebelum sakit menjadi bencana.

Pertumbuhan ekonomi mungkin tercatat, tetapi kesejahteraan tidak selalu terasa. Di sinilah paradoks itu lahir: ekonomi bisa membesar tanpa membuat hidup lebih ringan.

Tumbuh untuk Siapa?

Pertanyaan paling penting dalam ekonomi bukan semata "berapa persen pertumbuhannya?", melainkan: siapa yang ikut naik bersama pertumbuhan itu?

Karena pertumbuhan tidak selalu merata. Ia sering terkonsentrasi: di kota-kota besar, di sektor-sektor tertentu, di kelompok-kelompok yang sudah punya akses sejak awal. Sementara di tempat lain, banyak orang hanya menjadi penonton dari pesta yang bernama kemajuan.

Ekonomi tumbuh, tetapi jarak sosial ikut tumbuh bersamanya. Dan pertumbuhan semacam ini, betapapun mengilap, menyimpan ketidakadilan dalam diam.

Mohon tunggu...

You can share this post!