Suara News - Raedu Basha, sastrawan asal Madura, menggelar diskusi buku di KopiSufi, Kendal, dengan tema antologi cerpen terbarunya, Sepucuk Surat pada Selembar Daun Talas. Dalam forum ini, ia mengeksplorasi kehidupan pesantren dan tantangan sosial yang dihadapi masyarakat.
Acara NgopiSastra #31 yang diselenggarakan oleh Pelataran Sastra Kaliwungu (PSK) dihadiri Raedu Basha, yang dikenal dengan nama asli Muhammad Badrus Shaleh Sibqi. Dalam perbincangan tersebut, ia menekankan bahwa sebelas cerpen yang terdapat dalam bukunya merupakan hasil dari pengalaman dan pengamatan pribadi, serta mengajak publik untuk mengenal lebih dekat sosok kiai di pesantren.
Raedu menjelaskan bahwa karya-karyanya bertujuan untuk menunjukkan pergeseran nilai di lingkungan pesantren dan mendorong tradisi menulis di kalangan santri. Sebagai seorang antropolog lulusan Universitas Gadjah Mada, ia menyampaikan pandangannya mengenai fenomena toko kelontong milik warga Madura yang merefleksikan cara pandang masyarakat terhadap kehidupan dan rezeki. Diskusi tersebut mengundang perhatian peserta, yang bebas bertanya mengenai tema yang diangkat dalam cerpen-cerpennya.
Forum yang dipandu oleh Lukluk Atsmara Anjaina berlangsung interaktif, dengan kehadiran pemantik diskusi dari kalangan akademisi dan pegiat literasi. Mereka menyoroti nilai estetik dan moral yang terkandung dalam karya Raedu, serta bagaimana sastra dapat menjelaskan realitas yang kompleks. Acara ini berakhir dengan suasana akrab, di mana peserta merasakan kedalaman makna di balik cerita-cerita yang diangkat, mengingatkan akan pentingnya memahami wajah pesantren dan kehidupan sehari-hari di dalamnya.